Rabu, 24 Oktober 2012

sejarah perang korea


Perang Korea
Perang Korea Terjadi pada tahun 1950-1953  sebab Korea Utara menyerbu Korea Selatan dibantu US dan RRC. PBB membentuk pasukan internasional dan berhasil mengusir penyerang ke perbatasan 38LU. Kemudian dicapai perdamaian di desa Pan Mun Nyom yaitu genjatan senjata, pasukan PBB yang terdiri dari 16 negara dibubuarkan sedang  “ sukarelawan” RRC maupun US harus meninggalkan Korea Utara. Genjatan senjata berarti perang Korea belum berakhir, hanya untuk sementara ( sejak 1953 sampai kini ) dalam situasi perang tanpa letusan senjata.
Korea Selatan bangkit sebagai Negara industri baru dan hampir setara dengan jepan, berkat bantuan AS untuk membendung komunis. Disamping itu rakyatnya memiliki disiplin kerja yang sangat tinggi da nggaran militer tidak diutamakan, sebab adanya perjanjian kerjasama militer AS dengan Korea Selatan. Sampai sekarang terdapat 5.000 pasukan As di Korea Selatan ( 1997 ) .
Sebaliknya Korea Utara lebih mengutamakan pelaksanaan ideologi komunis sehingga anggaran belanja untuk militer lebih besar serta upaya unutk membuat senjata nuklir walaupun belum berhasil. Akibatnya kesejahteraan rakyat sangat kurang diperhatikan dibandingkan dengan pengklutusan pimpinannya Kim II Sung dengan banyaknya monument tokoh tersebut. Jadi pemerintahan merupakan diktator komunis perorangan, apalagi setelah Kim II Sung meninggal yang menjadi presiden dan juga ketua partai anaknya ( 1995 ).
Hubungan antara Indonesia dengan kedua Negara Korea itu cukup baik, terlebih-lebih hubungan ekonomi dena Korea Selatan sangat meningkat dengan banjirnya  barang elektronik dan mobil dari Negara tersebut ( ingat mobil nasional TIMOR ).
Akibat perang Dunia II hanya bangsa Korea yang belum dapat disatukan, tidak seperti Vietnam dengan peperangan( 1975 ) dan juga bangsa Jerman dengan jalan damai ( 1991 ). Dengan jatuhnya komunis di Eropa Tiur, termasuk bubarnya Negara Uni Soviet ( US ) dan berubahnya komunis kapitalis di RRC  maupun Vietnam, lambat laun Korea Utara yang komunis pasti bubar dan menyatu dengan Korea Selatan ditambah  kemiskinan rakyat yang melanda akibat doktrin komunis maupun bencana alam ( 1997 ). Jatuhnya komunis di korea utara pasti terjadi bila ada kudeta dari kaum  militer atau bila Kim II Sung kedua ini meninggal.
Pada konfrensi AA I ( Bandung, 1955)  maupun konfrensi GNB I ( Beograd, 1961), Korea Utara maupun Korea Selatan tidak diundang. Hubungan antara Indonesia makin erat dalam masa Demokrasi terpimpin ( 1960-1965), dengan adanya politik Orde lama poros : Jakarta-Pnompenh-Hanoi-Beijing-Pyongyang. Hal ini untuk kepentingan indinesia menggagalkan proyek Inggris membentuk Malaysia ( ingat Dwikora 3 mei ( 1964). Sebaliknya di era ORBA hubungan dengan Korea Utara agak dingin, sedang dengan Korea Selatan makin erat berkaitan dengan ekonomi.        
Perang ini sempat berhenti sementara dengan gencatan senjata yang ditandatangani pada 27 Juli 1953. Konflik diakibatkan oleh pembagian Korea dan upaya kedua Korea untuk menyatukan kembali Korea dibawah pemerintahan mereka masing-masing.
            Perang ini menewaskan lebih dari 2 juta penduduk dan prajurit dari kedua belah pihak. Periode sebelum perang ditandai dengan konflik perbatasan pada paralel utara ke-38 dan upaya negosiasi pemilihan umum bagi keutuhan Korea.[ Negosiasi berakhir ketika Tentara Rakyat Korea menyerbu Korea Selatan pada 25 Juni 1950. Di bawah restu PBB, Amerika Serikat dan sekutunya mendukung Korea Selatan.
            Setelah serangan balasan Korea Selatan, tentara Cina mendukung Korea Utara, dan pada akhirnya mengarah kepada gencatan senjata yang hampir memulihkan kembali perbatasan awal antara Korea Utara dan Korea Selatan…….
            Sejak gencatan senjata tahun 1953, hubungan antara pemerintah Korea Utara dengan Korea Selatan, Uni Eropa, Kanada, Amerika Serikat, dan Jepang tetap tegang. Pertempuran dihentikan dengan gencatan senjata, tetapi kedua Korea secara teknis masih berada dalam keadaan perang. Baik Korea Utara maupun Selatan menandatangani Deklarasi Gabungan Utara-Selatan 15 Juni pada tahun 2000, ketika kedua pihak berjanji untuk mengupayakan penyatuan kembali dengan cara damai.
            Selain itu pada 4 Oktober 2007, para pemimpin dari Utara dan Selatan bergandengan tangan untuk mengadakan rapat puncak yang membicarakan pernyataan penghentian perang secara resmi dan mengukuhkan kembali prinsip non-agresi. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar